Teori lokasi adalah sebuah ilmu yang menyelidiki tentang tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi. Selain itu, teori lokasi juga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang lokasi secara geografis dari sumber daya yang langka, serta pengaruhnya terhadap lokasi berbagai macam usaha atau kegiatan lain (activity). Berbagai faktorpun dipertimbangkan dalam menentukan lokasi, antara lain ketersediaan bahan baku, upah buruh, jaminan keamanan, fasilitas penunjang, daya serap pasar lokal, dan aksesibilitas dari tempat produksi ke wilayah pemasaran yang dituju (terutama aksesibilitas pemasaran ke luar negeri), stabilitas politik suatu negara, dan kebijakan daerah (peraturan daerah).
Sebelum kita membahas apa sajakah isi dari teori Weber tersebut. Terlebih dahulu kita mengenal siapakah Weber itu sendiri.
Weber, yang memiliki nama asli Afred Weber ini lahir di Erfrut, pada tanggal 30 juli 1868, dan di besarkan di Charlottenburg. Seperti kakaknya Max Weber, dia memulai karir akademis di Jerman sebagai ekonom, kemudian menjadi seorang sosiolog. Lalu pada tahun 1904 ia mengajar di Universitas Praha hungga tahun 1907. Lalu sejak tahun 1907 hingga tahun 1933, Weber merupakan seorang Profesor di University of Heidelberg, Jerman, sampai dia di berhentikan, menyusul kritikan dari Hitlerism. Lalu Weberpun bertempat tinggal di Nazi, Jerman selama Perang Dunia Kedua.
Dalam Über den Standort der Industrie atau Teori Lokasi Industri, yang di publikasikan pada tahun 1909, Alfred Weber mengemukakan teori umum pertama yang membahas mengenai lokasi industri. Yaitu teori yang berkaitan dengan least cost location yang menyebutkan bahwa lokasi industri sebaiknya diletakkan di tempat yang memiliki biaya yang paling minimal. Tempat dimana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum cenderung identik dengan tingkat keuntungan yang maksimum. Weber juga menerapkan model untuk di gunakan dalam organisasi pelayanan seperti, perusahan investasi, dan lebih luas lagi terhadap sistem politik dan budaya tertentu. Masalah lokasi industri ini menjadi relevan terutama apada akhit abad ke-19, ketika revolusi industri sudah mulai bangkit, serta perkembangan sistem transportasi, terutama kereta api, lalu energi, telekomunikasi dan pertumbuhan di daerah perkotaan yang telah di sediakan dengan banyak pilihan. Perubahan faktor lokasi dapat mengakibatkan tiga perubahan di bidang industri yaitu, membelah ruang atau vertikal produksi dan distribusi, diversifikasi tanaman dalam berbagai proses, dan pembagian kerja antara industri. Lokasi dapat mempengaruhi biaya industri dalam mengamankan lokasi (misalnya, biaya real estate) dan memperoleh bahan baku dan pembantu. faktor umum daerah juga dapat mempengaruhi biaya produksi (misalnya, biaya tenaga kerja),pada saat mengirimkan produk ke tangan konsumen.
Menurut Weber, ada tiga faktor yang menpengaruhi lokasi industri, yaitu faktor tenaga kerja dan biaya transportasi yang merupakan faktor regional yang bersifat umum. Lalu ada juga faktor deglomeration/aglomerasi yang bersifat lokal dan khusus. Weber berbasis kepada beberapa asumsi utama, antara lain pertama, lokasi bahan baku ada di tempat tertentu saja, kedua, situasi dan ukuran tempat konsumsi juga adalah tertentu juga, sehingga terdapat sutau persaingan sempurna. Lalu yang ke tiga adalah ada beberapa tempat pekerja yang bersifat tak mudah bergerak (immobile).
Dalam menyusun konsepnya, Weber melakukan penyederhanaan dengan membayangkan adanya bentang lahan yang homogen dan datar, serta mengesampingkan upah buruh dan jangkauan pasaran. Weber menjelaskan bahwa gejala aglomerasi merupakan pemusatan produksi di lokasi tertentu. Pemusatan produksi ini dapat terjadi dalam satu perusahaan atau dalam berbagai perusahaan yang mengusahakan berbagai produk. Gejala ini menarik industri dari lokasi biaya angkutan minimum, karena membawakan berbagai bentuk penghematan ekstern yang disebut aglomeration economies. Tentu saja perpindahan ini akan mengakibatkan kenaikan biaya angkutan, sehingga dilihat dari segi ini tidak lagi optimum. Oleh karena itu, industri tersebut baru akan pindah bila penghematan yang dibawa oleh aglomeration economies lebih besar daripada kenaikan biaya angkutan yang dibawakan kepindahan tersebut.Lalu deglomeration, yaitu terjadi ketika perusahaan dan jasa pergi karena mungkin industrinya salah, atau kekurangan tenaga kerja, modal, dll.
Dengan menggunakan asumsi di atas, maka biaya transportasi akan bergantung dari dua hal, yaitu bobot barang dan jarak pengangkutan. Apabila yang menjadi dasar penentu bukan bobot melainkan volume, maka yang menentukan biaya pengangkutan adalah volume barang dan jarak pengangkutan. Pada prinsipnya, yang harus diketahui adalah unit yang merupakan hubungan fungsional dengan biaya serta jarak yang harus ditempuh dalam pengangkutan itu (memiliki tarif sama). Di sini dapat diasumsikan secara implisit bahwa harga satuan angkutan kemana-mana sama, sehingga perbedaan biaya angkutan hanya disebabkan oleh perbedaan berat benda yang diangkut dan jarak yang di tempuh.
Pada intinya, lokasi akan optimal apabila pabrik berada di titik sentral, karena biaya transportasi dari manapun akan rendah. Biaya tersebut berkaitan pada dua hal, yaitu transportasi bahan mentah yang di datangkan dari luar, serta transportasi hasil produkasi yang menuju ke pasaran.
Masalah lokasi industri semakin relevan dengan pasar global saat ini dan perusahaan trans-nasional. Fokus hanya pada mekanisme model Weberian dapat membenarkan jarak transportasi yang lebih besar untuk tenaga kerja murah dan bahan baku asri. Ketika sumber daya yang habis atau pemberontakan pekerja, industri pindah ke negara yang berbeda. Sebagai seorang sosiolog yang menolak ideologi Fasis, Alfred Weber mungkin saat ini telah berkembang diskusi tentang konsekuensi potensi sosial, budaya, dan sejarah negatif di sekitar lokasi industri.
Setelah 1945, tulisan-tulisanya serta cara mengajarnya sang Alfred Weber sangat berpengaruh, baik dalam dan luar dari kalangan akademisi, dalam mempromosikan pemulihan kembali filosofis dan politik bagi orang Jerman. Ia kembali sebagai profesor di 1945, sampai kematiannya di Heidelberg.
.
Sebelum kita membahas apa sajakah isi dari teori Weber tersebut. Terlebih dahulu kita mengenal siapakah Weber itu sendiri.
Weber, yang memiliki nama asli Afred Weber ini lahir di Erfrut, pada tanggal 30 juli 1868, dan di besarkan di Charlottenburg. Seperti kakaknya Max Weber, dia memulai karir akademis di Jerman sebagai ekonom, kemudian menjadi seorang sosiolog. Lalu pada tahun 1904 ia mengajar di Universitas Praha hungga tahun 1907. Lalu sejak tahun 1907 hingga tahun 1933, Weber merupakan seorang Profesor di University of Heidelberg, Jerman, sampai dia di berhentikan, menyusul kritikan dari Hitlerism. Lalu Weberpun bertempat tinggal di Nazi, Jerman selama Perang Dunia Kedua.
Dalam Über den Standort der Industrie atau Teori Lokasi Industri, yang di publikasikan pada tahun 1909, Alfred Weber mengemukakan teori umum pertama yang membahas mengenai lokasi industri. Yaitu teori yang berkaitan dengan least cost location yang menyebutkan bahwa lokasi industri sebaiknya diletakkan di tempat yang memiliki biaya yang paling minimal. Tempat dimana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum cenderung identik dengan tingkat keuntungan yang maksimum. Weber juga menerapkan model untuk di gunakan dalam organisasi pelayanan seperti, perusahan investasi, dan lebih luas lagi terhadap sistem politik dan budaya tertentu. Masalah lokasi industri ini menjadi relevan terutama apada akhit abad ke-19, ketika revolusi industri sudah mulai bangkit, serta perkembangan sistem transportasi, terutama kereta api, lalu energi, telekomunikasi dan pertumbuhan di daerah perkotaan yang telah di sediakan dengan banyak pilihan. Perubahan faktor lokasi dapat mengakibatkan tiga perubahan di bidang industri yaitu, membelah ruang atau vertikal produksi dan distribusi, diversifikasi tanaman dalam berbagai proses, dan pembagian kerja antara industri. Lokasi dapat mempengaruhi biaya industri dalam mengamankan lokasi (misalnya, biaya real estate) dan memperoleh bahan baku dan pembantu. faktor umum daerah juga dapat mempengaruhi biaya produksi (misalnya, biaya tenaga kerja),pada saat mengirimkan produk ke tangan konsumen.
Menurut Weber, ada tiga faktor yang menpengaruhi lokasi industri, yaitu faktor tenaga kerja dan biaya transportasi yang merupakan faktor regional yang bersifat umum. Lalu ada juga faktor deglomeration/aglomerasi yang bersifat lokal dan khusus. Weber berbasis kepada beberapa asumsi utama, antara lain pertama, lokasi bahan baku ada di tempat tertentu saja, kedua, situasi dan ukuran tempat konsumsi juga adalah tertentu juga, sehingga terdapat sutau persaingan sempurna. Lalu yang ke tiga adalah ada beberapa tempat pekerja yang bersifat tak mudah bergerak (immobile).
Dalam menyusun konsepnya, Weber melakukan penyederhanaan dengan membayangkan adanya bentang lahan yang homogen dan datar, serta mengesampingkan upah buruh dan jangkauan pasaran. Weber menjelaskan bahwa gejala aglomerasi merupakan pemusatan produksi di lokasi tertentu. Pemusatan produksi ini dapat terjadi dalam satu perusahaan atau dalam berbagai perusahaan yang mengusahakan berbagai produk. Gejala ini menarik industri dari lokasi biaya angkutan minimum, karena membawakan berbagai bentuk penghematan ekstern yang disebut aglomeration economies. Tentu saja perpindahan ini akan mengakibatkan kenaikan biaya angkutan, sehingga dilihat dari segi ini tidak lagi optimum. Oleh karena itu, industri tersebut baru akan pindah bila penghematan yang dibawa oleh aglomeration economies lebih besar daripada kenaikan biaya angkutan yang dibawakan kepindahan tersebut.Lalu deglomeration, yaitu terjadi ketika perusahaan dan jasa pergi karena mungkin industrinya salah, atau kekurangan tenaga kerja, modal, dll.
Dengan menggunakan asumsi di atas, maka biaya transportasi akan bergantung dari dua hal, yaitu bobot barang dan jarak pengangkutan. Apabila yang menjadi dasar penentu bukan bobot melainkan volume, maka yang menentukan biaya pengangkutan adalah volume barang dan jarak pengangkutan. Pada prinsipnya, yang harus diketahui adalah unit yang merupakan hubungan fungsional dengan biaya serta jarak yang harus ditempuh dalam pengangkutan itu (memiliki tarif sama). Di sini dapat diasumsikan secara implisit bahwa harga satuan angkutan kemana-mana sama, sehingga perbedaan biaya angkutan hanya disebabkan oleh perbedaan berat benda yang diangkut dan jarak yang di tempuh.
Pada intinya, lokasi akan optimal apabila pabrik berada di titik sentral, karena biaya transportasi dari manapun akan rendah. Biaya tersebut berkaitan pada dua hal, yaitu transportasi bahan mentah yang di datangkan dari luar, serta transportasi hasil produkasi yang menuju ke pasaran.
Masalah lokasi industri semakin relevan dengan pasar global saat ini dan perusahaan trans-nasional. Fokus hanya pada mekanisme model Weberian dapat membenarkan jarak transportasi yang lebih besar untuk tenaga kerja murah dan bahan baku asri. Ketika sumber daya yang habis atau pemberontakan pekerja, industri pindah ke negara yang berbeda. Sebagai seorang sosiolog yang menolak ideologi Fasis, Alfred Weber mungkin saat ini telah berkembang diskusi tentang konsekuensi potensi sosial, budaya, dan sejarah negatif di sekitar lokasi industri.
Setelah 1945, tulisan-tulisanya serta cara mengajarnya sang Alfred Weber sangat berpengaruh, baik dalam dan luar dari kalangan akademisi, dalam mempromosikan pemulihan kembali filosofis dan politik bagi orang Jerman. Ia kembali sebagai profesor di 1945, sampai kematiannya di Heidelberg.
.
Komentar
Posting Komentar