C
1.PENDAHULUAN
Analisis keruangan adalah analisis lokasi yang menitik beratkan pada tiga unsur jarak (distance), kaitan (interaction) dan gerakan (movement), tujuan dari analisis keruangan adalah untuk mengukur apakah kondisi yang ada sesuai sesuai dengan struktur keruangan, dan menganalisa interaksi antar unit keruangan yaitu hubungan antara ekonomi dan interaksi keruangan, aksesibilitas antara pusat dan perhentian suatu wilayah, dan hambatan interaksi, hal ini didasarkan oleh adanya tempat-tempat (kota) yang menjadi pusat kegiatan bagi tempat-tempat lain, serta adanya hirakri diantara tempat-tempat tersebut.
Suatu wilayah tertentu bergantung pada wilayah lain, demikian juga wilayah lain memiliki ketergantungan pada wilayah tertentu. Diantara wilayah-wilayah tersebut, terdapat wilayah-wilayah tertentu yang memiliki kelebihan dibanding yang lain sehingga wilayah tersebut memiliki beberapa fasilitas yang mampu melayani kebutuhan penduduk dalam radius yang lebih luas, sehingga penduduk pada radius tertentu akan mendatangi wilayah tersebut untuk memperoleh kebutuhan yang diperlukan.
Adapun kondisi yang mendukung terjadinya interaksi keruangan adalah
Complementary, yaitu terjadi akibat perbedaan potensi. Dimana semakin besar komplementaritas maka semakin besar interaksi yang terjadi.
Intervening Opportunity, yaitu adanya intervensi pihak (wilayah) ketiga yang akan menjadi penghambat interaksi antara 2 wilayah yang sudah ada.
Transferability, yaitu berkaitan dengan jarak, biaya dan waktu, kelancaran prasarana, peraturan, serta kondisi perubahan yang mendadak.
Adapun dalam menganalisis Interaksi Keruangan ini, di pengaruhi oleh beberapa pergerakan, yaitu pergerakan berupa orang, barang, uang, industri, serta pergerakan yang menggunakan rumus. Dan adapun yang akan di angakat dalam critical riview ini adalah analisis interaksi keruangan yang di pengaruhi oleh pergerakan orang. Salah satunya adalah Migrasi atau perpindahan penduduk.
2.PEMBAHASAN
Migrasi merupakan salah satu dari tiga faktor yang dasar yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk, selain faktor lainnya, yaitu kelahiran dan kematian.
Migrasi merupakan dimensi gerakan penduduk permanen, sedangkan dimensi gerak penduduk non-permanen terdiri dari sirkulasi dan komunikasi (Rusli.1996: hal.136). Defenisi lain, migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain melampaui batas politik/negara ataupun batas administrasi/batas bagian dalam suatu negara (Munir, 2000 : hal 116).
Dalam makalah diatas, diangkat masalah migrasi yang terjadi di Negara Indonesia, yang mana meliputi seluruh kepulauan di Indonesia pada periode tahun 1971 hingga 1995, yaitu seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara serta kepulauan – kepulauan lainnya yang ada di indonesia. Hal ini masuk dalam salah satu pergerakan Orang yang dapat menyebabkan Interaksi antar ruang, yang mana terjadi saling keterkaitan, interaksi serta hubungan antara manusia di setiap pulau yang mana seperti di jelaskan pada awal tulisan, bahwa pergerakan terjadi jika, adanya perbedaan sumber daya, serta kebutuhan akan hidup.
Migrasi ini pun terjadi karena selain dari perbedaan sumber daya dan lain sebagainya, juga karena adanya keinginan masyarakat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak, dan itu mereka lakukan dengan cara berpindah dari daerah asal menuju daerah yang menurut mereka dapat mewujudkan impian mereka.
Seperti dalam makalah di atas, dimana di Indonesia, pulau yang menjadi tujuan utama migrasi adalah pulau Jawa, lalu yang kedua adalah pulau Sumatera, ini di akibatkan karena pulau jawa merupakan tempat pusat perekonomian, pusat pemerintahan, pusat pendidikan dan pusat kegiatan-kegiatan sosial ekonomi lainnya, sehingga penduduk dari pulau-pulau di luar Jawa ingin menetap (tinggal) di Pulau Jawa. Begitu juga dengan pulau Sumatera, namun migrasi lebih cenderung ke pulau jawa.
Dari makalah di atas, diketahui bahwa para migran yang menuju Jawa berasal dari sebagian besar pulau di Indonesia, yaitu Sumatera, kalimantan, dan Nusa Tenggara, sedangkan Sulawesi sendiri lebih cenderung bermigrasi ke pulau-pulau lain yang ada di Indonesia. Adapun migran yang banyak masuk ke pulau Jawa pada kisaran tahun 1971 – 1995, adalah dari pulau Sumatera, karena ini di sebabkan karena jarak antara Pulau Jawa dan Sumatera berdekatan, serta jalur transportasinya yang mudah (akses transportasi). Adanya hubungan antara jarak dan banyaknya migran inipun merupakan salah satu faktor dari pergerakan/interaksi.
Namun tidak ada interaksi yang sempurna tanpa adanya hubungan timbal balik, sama seperti migrasi ini. Dari makalah diatas, walaupun migran dari segala penjuru Indonesia pada periode tersebut lebih cenderung ke pulau Jawa, namun dari pulau Jawa sendiri tidak tinggal diam begitu saja. Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, serta kepulauan lainnya, menerima imigran masuk yang dimana imigran tersebut berasal dari pulau Jawa. Sehingga dapat dikatakan bahwa Pulau Jawa yang memang mempunyai penduduk terbesar di Indonesia merupakan pulau pengirim migran terbesar untuk setiap pulau-pulau yang ada di Indonesia.
3.KESIMPULAN
Migrasi di Indonesia masih bersifat Jawa "centris", dengan pengertia tujuan terbesar migrasi di Indonesia masih dominan menuju ke kota-kota atau daerah-daerah di pulau Jawa. Dan sebagian besar para migran tersebut berasal dari pulau Sumatera yang notabenenya adalah pulau yang memiliki jarak paling dekat dengan pulau Jawa, serta akses transportasinya juga sudah cukup baik. lalu, selain sebagai pusat tujuan migrasi, ternyata pulau Jawa pun merupakan pengirim migrasi keluar terbesar untuk setiap[ pulau-pulau yang ada di Indonesia.
Dengan adanya pergerakan manusia dari suatu daerah ke daerah lainnya, yang dimana di sebabkan oleh adanya perbedaan sumber daya, serta adanya keinginan untuk kehidupan yang lebih layak. Lalu adanya perbandingan jarak dengan banyaknya migran, dan adanya timbal balik antara pulau dalam pengiriman migran, sehingga dapat dikatakan sebagai interaksi keruangan dalam konteks pergerakan orang.
Sumber: sosek_emalisa.pdf
1.PENDAHULUAN
Analisis keruangan adalah analisis lokasi yang menitik beratkan pada tiga unsur jarak (distance), kaitan (interaction) dan gerakan (movement), tujuan dari analisis keruangan adalah untuk mengukur apakah kondisi yang ada sesuai sesuai dengan struktur keruangan, dan menganalisa interaksi antar unit keruangan yaitu hubungan antara ekonomi dan interaksi keruangan, aksesibilitas antara pusat dan perhentian suatu wilayah, dan hambatan interaksi, hal ini didasarkan oleh adanya tempat-tempat (kota) yang menjadi pusat kegiatan bagi tempat-tempat lain, serta adanya hirakri diantara tempat-tempat tersebut.
Suatu wilayah tertentu bergantung pada wilayah lain, demikian juga wilayah lain memiliki ketergantungan pada wilayah tertentu. Diantara wilayah-wilayah tersebut, terdapat wilayah-wilayah tertentu yang memiliki kelebihan dibanding yang lain sehingga wilayah tersebut memiliki beberapa fasilitas yang mampu melayani kebutuhan penduduk dalam radius yang lebih luas, sehingga penduduk pada radius tertentu akan mendatangi wilayah tersebut untuk memperoleh kebutuhan yang diperlukan.
Adapun kondisi yang mendukung terjadinya interaksi keruangan adalah
Complementary, yaitu terjadi akibat perbedaan potensi. Dimana semakin besar komplementaritas maka semakin besar interaksi yang terjadi.
Intervening Opportunity, yaitu adanya intervensi pihak (wilayah) ketiga yang akan menjadi penghambat interaksi antara 2 wilayah yang sudah ada.
Transferability, yaitu berkaitan dengan jarak, biaya dan waktu, kelancaran prasarana, peraturan, serta kondisi perubahan yang mendadak.
Adapun dalam menganalisis Interaksi Keruangan ini, di pengaruhi oleh beberapa pergerakan, yaitu pergerakan berupa orang, barang, uang, industri, serta pergerakan yang menggunakan rumus. Dan adapun yang akan di angakat dalam critical riview ini adalah analisis interaksi keruangan yang di pengaruhi oleh pergerakan orang. Salah satunya adalah Migrasi atau perpindahan penduduk.
2.PEMBAHASAN
Migrasi merupakan salah satu dari tiga faktor yang dasar yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk, selain faktor lainnya, yaitu kelahiran dan kematian.
Migrasi merupakan dimensi gerakan penduduk permanen, sedangkan dimensi gerak penduduk non-permanen terdiri dari sirkulasi dan komunikasi (Rusli.1996: hal.136). Defenisi lain, migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain melampaui batas politik/negara ataupun batas administrasi/batas bagian dalam suatu negara (Munir, 2000 : hal 116).
Dalam makalah diatas, diangkat masalah migrasi yang terjadi di Negara Indonesia, yang mana meliputi seluruh kepulauan di Indonesia pada periode tahun 1971 hingga 1995, yaitu seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara serta kepulauan – kepulauan lainnya yang ada di indonesia. Hal ini masuk dalam salah satu pergerakan Orang yang dapat menyebabkan Interaksi antar ruang, yang mana terjadi saling keterkaitan, interaksi serta hubungan antara manusia di setiap pulau yang mana seperti di jelaskan pada awal tulisan, bahwa pergerakan terjadi jika, adanya perbedaan sumber daya, serta kebutuhan akan hidup.
Migrasi ini pun terjadi karena selain dari perbedaan sumber daya dan lain sebagainya, juga karena adanya keinginan masyarakat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak, dan itu mereka lakukan dengan cara berpindah dari daerah asal menuju daerah yang menurut mereka dapat mewujudkan impian mereka.
Seperti dalam makalah di atas, dimana di Indonesia, pulau yang menjadi tujuan utama migrasi adalah pulau Jawa, lalu yang kedua adalah pulau Sumatera, ini di akibatkan karena pulau jawa merupakan tempat pusat perekonomian, pusat pemerintahan, pusat pendidikan dan pusat kegiatan-kegiatan sosial ekonomi lainnya, sehingga penduduk dari pulau-pulau di luar Jawa ingin menetap (tinggal) di Pulau Jawa. Begitu juga dengan pulau Sumatera, namun migrasi lebih cenderung ke pulau jawa.
Dari makalah di atas, diketahui bahwa para migran yang menuju Jawa berasal dari sebagian besar pulau di Indonesia, yaitu Sumatera, kalimantan, dan Nusa Tenggara, sedangkan Sulawesi sendiri lebih cenderung bermigrasi ke pulau-pulau lain yang ada di Indonesia. Adapun migran yang banyak masuk ke pulau Jawa pada kisaran tahun 1971 – 1995, adalah dari pulau Sumatera, karena ini di sebabkan karena jarak antara Pulau Jawa dan Sumatera berdekatan, serta jalur transportasinya yang mudah (akses transportasi). Adanya hubungan antara jarak dan banyaknya migran inipun merupakan salah satu faktor dari pergerakan/interaksi.
Namun tidak ada interaksi yang sempurna tanpa adanya hubungan timbal balik, sama seperti migrasi ini. Dari makalah diatas, walaupun migran dari segala penjuru Indonesia pada periode tersebut lebih cenderung ke pulau Jawa, namun dari pulau Jawa sendiri tidak tinggal diam begitu saja. Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, serta kepulauan lainnya, menerima imigran masuk yang dimana imigran tersebut berasal dari pulau Jawa. Sehingga dapat dikatakan bahwa Pulau Jawa yang memang mempunyai penduduk terbesar di Indonesia merupakan pulau pengirim migran terbesar untuk setiap pulau-pulau yang ada di Indonesia.
3.KESIMPULAN
Migrasi di Indonesia masih bersifat Jawa "centris", dengan pengertia tujuan terbesar migrasi di Indonesia masih dominan menuju ke kota-kota atau daerah-daerah di pulau Jawa. Dan sebagian besar para migran tersebut berasal dari pulau Sumatera yang notabenenya adalah pulau yang memiliki jarak paling dekat dengan pulau Jawa, serta akses transportasinya juga sudah cukup baik. lalu, selain sebagai pusat tujuan migrasi, ternyata pulau Jawa pun merupakan pengirim migrasi keluar terbesar untuk setiap[ pulau-pulau yang ada di Indonesia.
Dengan adanya pergerakan manusia dari suatu daerah ke daerah lainnya, yang dimana di sebabkan oleh adanya perbedaan sumber daya, serta adanya keinginan untuk kehidupan yang lebih layak. Lalu adanya perbandingan jarak dengan banyaknya migran, dan adanya timbal balik antara pulau dalam pengiriman migran, sehingga dapat dikatakan sebagai interaksi keruangan dalam konteks pergerakan orang.
Sumber: sosek_emalisa.pdf
Komentar
Posting Komentar