1.SUBURBANISATION
Contohnya : Jakarta merupakan satu contoh betapa perkembangan kota-kota besar di Indonesia yang umumnya menghadapi masalah yang lebih serius jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Berbeda dengan negara-negara maju yang kotanya terintegrasi dalam suatu sistem (the existence of articulated and integrated system of cities), negara-negara Dunia Ketiga tidak memiliki sistem kota-kota yang terintegrasi dan efisien.
Umumnya negara-negara Dunia Ketiga, didominasi oleh satu atau dua kota primat (di Indonesia adalah Jakarta). Keuntungan pertumbuhan ekonomi Jakarta tidak dijalarkan ke wilayah-wilayah di belakangnya (hinterland) atau innovation and the benefits or urban economic growth (Rondinelli, 1984). Ini berarti trickle down effect atau tetesan ke bawah dan spread effect atau efek menyebar tidak tampak dari pusat-pusat pertumbuhan tersebut.
Kota-kota besar di Indonesia umumnya tumbuh menjadi kota dengan ciri sebagai region based urbanization sebagaimana dipinjam dari istilah Terry McGee (1991), suatu wilayah perkotaan yang menjalar ke daerah pinggiran sehingga menjadi megaurban.
Yang menjadi masalah, perkembangan urbanisasi yang demikian pesat tidak diikuti oleh tercukupinya sarana kota. Hal inilah yang banyak disebut para ahli perkotaan sebagai gejala premature suburbanization atau proses pengembangan kota yang terlalu dini. Umumnya, yang menjadi korban adalah rakyat ekonomi lemah di kota yang banyak tidak mendapatkan akses yang layak seperti air minum, transportasi, dan perumahan.
2.COUNTERURBANISATION
Contohnya : Menurut McGee (1991) proses pengembangan, perkembangan, dan urbanisasi
kota-kota di Pulau Jawa ditandai oleh adanya restrukturisasi internal
pada kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Semarang.
Salah satu ciri yang menonjol dalam proses ini adalah adanya
pergeseran fungsi kota inti, dari pusat manufaktur menjadi pusat-pusat . kegiatan jasa
dan keuangan. Sedangkan kegiatan manufaktur bergeser ke pinggiran kota.
Karena aktivitas pembangunan yang luar biasa inilah, mobilitas
penduduk di Pulau Jawa amat tinggi, terutama mereka menyerbu kota-kota
besar seperti Jakarta dan Surabaya. Kota Jakarta misalnya, kini telah
mekar menjadi suatu mega-urban, yakni suatu perkembangan wilayah kota
yang menjalar ke daerah pedesaan dan berpusat di kota inti, dan
kota-kota kecil mempunyai peran dalam pemekaran wilayah metropolitan
(Hastu P; 1994).
3.POPULATION RETENTION
Contohnya : Tahun 1990 penduduk perkotaan mencapai 31,1% dan tahun 1995 mencapai 35,9% dari jumlah penduduk Indonesia, sedangkan pada tahun 2003 penduduk perkotaan mencapai 55,5% dari jumlah penduduk Indonesia. Penduduk perdesaan tahun 1990 mencapai 68,9%, tahun 1995 mencapai 64,4% dan tahun 2003 penduduk perdesaan mencapai kurang dari 45% dari jumlah penduduk Indonesia.
Salah satu dampak dari pertumbuhan penduduk yang pesat ini diantaranya adalah selalu tidak dapat terpenuhinya kebutuhan pelayanan umum (fasilitas pendidikan, kesehatan, keagamaan) penduduk perkotaan, lapangan kerja dan selalu meningkatnya permintaan akan kualitas kehidupan perkotaan yang dirasakan makin tidak memadai.
4.CENTRIPETAL MIGRATION
Contohnya :Fenomena rendahnya nilai tukar petani terhadap produk-produk modern
menunjukkan lemahnya sektor ini terhadap sektor moderen. Bahkan Uma
Lele (1979) menyebutkan banyak proyek-proyek pembangunan di desa-desa
yang diintegrasikan dengan pembangunan nasional, namun di ujungnya
malahan banyak menyedot sumber daya ekonomi pedesaan.
Akibatnya, di desa-desa di Jawa terjadi kesenjangan cukup lebar,
hingga menyebabkan mereka berbondong-bondong menyerbu kota-kota besar.
Tradisi warga Wonogiri dan Sukohardjo di Jawa Tengah, juga penduduk
Tegal-Pekalongan yang banyak bertebaran di Jakarta, atau warga Madura
di Jawa Timur menunjukkan bahwa kesenjangan pembangunan di
daerah-daerah tersebut tidak seimbang. Pepatah "ada gula ada semut"
nampaknya cocok untuk diterapkan dalam "kasus" migrasi ini.
Contohnya : Jakarta merupakan satu contoh betapa perkembangan kota-kota besar di Indonesia yang umumnya menghadapi masalah yang lebih serius jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Berbeda dengan negara-negara maju yang kotanya terintegrasi dalam suatu sistem (the existence of articulated and integrated system of cities), negara-negara Dunia Ketiga tidak memiliki sistem kota-kota yang terintegrasi dan efisien.
Umumnya negara-negara Dunia Ketiga, didominasi oleh satu atau dua kota primat (di Indonesia adalah Jakarta). Keuntungan pertumbuhan ekonomi Jakarta tidak dijalarkan ke wilayah-wilayah di belakangnya (hinterland) atau innovation and the benefits or urban economic growth (Rondinelli, 1984). Ini berarti trickle down effect atau tetesan ke bawah dan spread effect atau efek menyebar tidak tampak dari pusat-pusat pertumbuhan tersebut.
Kota-kota besar di Indonesia umumnya tumbuh menjadi kota dengan ciri sebagai region based urbanization sebagaimana dipinjam dari istilah Terry McGee (1991), suatu wilayah perkotaan yang menjalar ke daerah pinggiran sehingga menjadi megaurban.
Yang menjadi masalah, perkembangan urbanisasi yang demikian pesat tidak diikuti oleh tercukupinya sarana kota. Hal inilah yang banyak disebut para ahli perkotaan sebagai gejala premature suburbanization atau proses pengembangan kota yang terlalu dini. Umumnya, yang menjadi korban adalah rakyat ekonomi lemah di kota yang banyak tidak mendapatkan akses yang layak seperti air minum, transportasi, dan perumahan.
2.COUNTERURBANISATION
Contohnya : Menurut McGee (1991) proses pengembangan, perkembangan, dan urbanisasi
kota-kota di Pulau Jawa ditandai oleh adanya restrukturisasi internal
pada kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Semarang.
Salah satu ciri yang menonjol dalam proses ini adalah adanya
pergeseran fungsi kota inti, dari pusat manufaktur menjadi pusat-pusat . kegiatan jasa
dan keuangan. Sedangkan kegiatan manufaktur bergeser ke pinggiran kota.
Karena aktivitas pembangunan yang luar biasa inilah, mobilitas
penduduk di Pulau Jawa amat tinggi, terutama mereka menyerbu kota-kota
besar seperti Jakarta dan Surabaya. Kota Jakarta misalnya, kini telah
mekar menjadi suatu mega-urban, yakni suatu perkembangan wilayah kota
yang menjalar ke daerah pedesaan dan berpusat di kota inti, dan
kota-kota kecil mempunyai peran dalam pemekaran wilayah metropolitan
(Hastu P; 1994).
3.POPULATION RETENTION
Contohnya : Tahun 1990 penduduk perkotaan mencapai 31,1% dan tahun 1995 mencapai 35,9% dari jumlah penduduk Indonesia, sedangkan pada tahun 2003 penduduk perkotaan mencapai 55,5% dari jumlah penduduk Indonesia. Penduduk perdesaan tahun 1990 mencapai 68,9%, tahun 1995 mencapai 64,4% dan tahun 2003 penduduk perdesaan mencapai kurang dari 45% dari jumlah penduduk Indonesia.
Salah satu dampak dari pertumbuhan penduduk yang pesat ini diantaranya adalah selalu tidak dapat terpenuhinya kebutuhan pelayanan umum (fasilitas pendidikan, kesehatan, keagamaan) penduduk perkotaan, lapangan kerja dan selalu meningkatnya permintaan akan kualitas kehidupan perkotaan yang dirasakan makin tidak memadai.
4.CENTRIPETAL MIGRATION
Contohnya :Fenomena rendahnya nilai tukar petani terhadap produk-produk modern
menunjukkan lemahnya sektor ini terhadap sektor moderen. Bahkan Uma
Lele (1979) menyebutkan banyak proyek-proyek pembangunan di desa-desa
yang diintegrasikan dengan pembangunan nasional, namun di ujungnya
malahan banyak menyedot sumber daya ekonomi pedesaan.
Akibatnya, di desa-desa di Jawa terjadi kesenjangan cukup lebar,
hingga menyebabkan mereka berbondong-bondong menyerbu kota-kota besar.
Tradisi warga Wonogiri dan Sukohardjo di Jawa Tengah, juga penduduk
Tegal-Pekalongan yang banyak bertebaran di Jakarta, atau warga Madura
di Jawa Timur menunjukkan bahwa kesenjangan pembangunan di
daerah-daerah tersebut tidak seimbang. Pepatah "ada gula ada semut"
nampaknya cocok untuk diterapkan dalam "kasus" migrasi ini.
Komentar
Posting Komentar